Tampilkan postingan dengan label Jawa Barat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jawa Barat. Tampilkan semua postingan

WADUK JATILUHUR PURWAKARTA

Satu tempat yang menjadi tujuan utamaku datang ke Purwakarta, menempuh perjalanan 3 jam lebih dari Jakarta yakni Waduk Jatiluhur. Begitu setibanya di stasiun Purwakarta, disambut dengan tumpukan gerbong warna warni yang menjadi ikon stasiun ini. Ini kali pertama aku ke Purwakarta. Tyo siap menjemputku, tapi sayang dia belum kunjung tiba. Hampir 1 jam aku menunggunya sampai akhirnya dia datang juga.

Ternyata dari Pleret ke Purwakarta lumayan jauh, hampir 50 menit katanya. Berhubung sudah masuk waktu Ashar, kami lanjut sholat di masjid dan langsung menuju ke Waduk Jatiluhur. Aku kira si Tyo udah pernah kesini, rupanya belum. Jadi kita sempat bertanya tanya, karrna google maps ku lagi error di tab.


Perjalanan ke waduk tidak begitu jauh, mungkin sekitar 10 km. Posisi waduk di perbukitan sehingga jalan menuju kesana menanjak. Vegetasi alam pun mulai berubah, tanaman dataran tinggi mulai terlihat disini. Indah sepanjang mata melihat, di kiri dan kanan jalan. Udara sejuk,cuaca cerah, langit biru, matahari bersinar terang menuju senja menjadikan pemandangan yang indah.



Masuk ke kawasan waduk, kita diaambut dengan pintu gerbang selamat datang. Kami belok ke sebelah kanan. Dan berhenti di dekat pos penjagaan. Kami mendapatkan izin dan kami memarkir kendaraan disini lalu lanjut dengan berjalan kaki ke arah waduk. Indah sdkLi disini. Kebetulan saat itu musim kemarau, jadi tumbuhan meranggas menyisakan ranting pohon. Air waduk surut. Beberapa ekor domba kulihat sedang merumput di padang rumput dekat bendungan. Tempat ini sungguh indah. Sempurna. Tak berhenti kukagumi. Rasanya enak ni kalo sambil ngopi, liat pemandangan disini, kata Tyo. Yup, emang bener. Klo aku sih sambil nge teh trus ngemil, dah komplit rasanya. Memang waduk jatiluhur ni, Kece Abis!





Oh ya, pas aku kembali ke pos jaga, kulihat ada air galon Jatiluhur, kirain itu iainya air waduk. Ternyata bukan. Itu air dari mata air gunung di sekitar Jatiluhur. Untuk rasa airnya, rada kerasa pahit. Kata bapak penjaga pos, beliau bilang itu merupakan kandungan mineral. Nah minuman ini memnag berkhasiat untuk pengobatan dan banyak dikonsumsi penderita penyakit, serta sudah banyak di pasok ke RS atau balai pengobatan. Untuk lebih jelasnya bisa googling air mineral jatiluhur, bisa juga klik http://www.headlinejabar.com/kesehatan/3233-rasakan-khasiat-setelah-minum-jatiluhur-air-demineral




Pengen banyak tau tentang waduk ini juga silahkan googling informasinya. Salah satunya bisa di http://bilik-purwakarta.blogspot.co.id/2016/11/obyek-wisata-grama-tirta-jatiluhur.html?m=1
Met plesiran !

CAPOLAGA SUBANG

Kebetulan perjalanan ku dari Purwakarta ke Lembang dengan motor, jadi enak kemana mana. Dan aku memasukkan destinasi Capolaga dalam list ku. Sempat bingung dimana lokasi tempat yang terkenal akan kegiatan outdoor dan perkemahan ini. Tanya sana sini, akhirnya nemu juga.

Capolaga merupakan wisata alam yang murah meriah. Sebuah kawasan yang terdiri dari kali, curug, hutan pinus, area perkemahan, dan berbagai wahana outdoor dan adventure tersedia disinim tiket masuk Rp 10.000/orang, kita sudah bisa berwisata alam murah. Di dekat sini juga ada beberapa penjual dan warung, jadi tetap bisa mengisi perut. Tapi sebaiknya bawa bekal saja karena trekking nya cukup jauh.


Di Capolaga ada 3 curug, yakni curug Goa Badak, Curuk Karembong dan Curug Sawer. Tapi sayangnya pada saat ku kesana, debit airnya kecil, lagi musim kemarau, jadi aliran air terjun tidak deras. Kalo kesini pakai sepatu aja, dan bawa sendal. Karena medan nya berbeda beda.




Waktu terbaik ke Capolaga yakni pagi hari dan seharian, karena bisa sekalian melakukan aktivitas adventure dan bermain di curug. Jangan lupa bawa bekal, supaya tetap semangat beraktivitas.

CURUG CIJALU SUBANG


Tyo pernah cerita kalo ada curug yang bagus di daerah Subang, namanya curug Cijalu. Curug dalam bahasa sunda itu nama lain dari air terjun. Berbekal prnasaran dan informasi tanya sana sini sama warga serta google maps, sampailah kami ke curug ini.

Jalannya mendaki karena berada di kawasan gunung Sunda. Pada saat kesana, didepan kami ada 2 truk yang mengangkut anak anak sekolah, sepertinya anak SD. Jalanan menanjak seperti itu membuat kami ngeri, saat truk menggerungkan gasnya. Seperti keberatan. Kami bergegas melewati truk agar tidak lama di perjalanan.

Semakin menanjak pemandangan kanan kiri jalan sangatlah indah. Tidak terasa kami akhirnya tiba di parkiran. Ada beberapa warung disini dan tempat ruang ganti pakaian serta kamar mandi/toilet. Kami menitipkan tas ransel di salah satu warung. Jadi bawa barang seperlunya aja pas di curug.

Kami berjalan kaki menapaki anak tangga yang tersusun dari bebatuan. Di sini juga bumi perkemahan yang sering dikunjungi. Saat kami kesana, lagi ada perkemahan. Jalanan menuju curug lumayan jauh juga, hampir 1 km sepertinya. Jalanan nya bebatuan membuat kaki terasa lelah. Harusnya memakai sepatu skechers ku supaya terasa nyaman. Ini malah pake sendal. 


Curug pertama yang kami jumpai berukuran kecil, tidak begitu tinggi. Tapi bagus dan airnya bersih. Kalo gak salah dinamakan curug Perempuan. Kami sempatkan bergantian foto disini dan mencuci muka dengan air yang sangat segar ini. Perjalanan kembali dilanjutkan. 

Terdengar dari jauh suara gemuruh air terjun. Akhirnya kami tiba. Masih sepi, hanya ada beberapa pengunjung yang mandi. Aku dekati kolam curug, kucoba airnya, brrrrr.....super dingin. Seperti air es. Tapi sayang bgt kalo udah sampai disini gak nyemplung. Setelah pikir pikir, mendingan nyemplung sekalian. Baju kan ada bawa. Jadi, aku nyemplung lengkap tanpa ganti kostum. Dan tadaaaaa......gigil. Ngomong aja gemeretek. Ini air kaya dari kulkas. Namun lama kelamaan tubuh terbiasa dengan suhu air dingin. Kecuali kalo aku keluar dari air trus masuk lagi, adaptasi lagi deh dengan suhu airnya.



Lumayan lama berenang disini. Ada deh sekitaran 20-30 menit. Aku kelar karena anak anak sd yang kuliat pake truk kesininya itu udah pada nyampe dan mereka pada nyebur. Keruh deh air. Syukur udah puas berenang tadi. Dan waktunya pulang, sebelumnya ganti dan mandi dulu di warung tempat ku menitip tas.Berenang di curug memang sangat menyenangkan.

Ini ada info lengkap tentang Curug Cijalu, aku ambil di Google : https://sites.google.com/site/wisataairterjun/jawa-barat/curug-cijalu---subang
Menurut cerita, sebelum diberi nama Cijalu, curug itu biasa disebut Curug Cikondang. Namun ketika seorang pendekar (jawara) datang ke daerah ini, akhirnya nama Cikondang diubah menjadi Cijalu. Nama ini perpaduan antara dua kata cai dan jalu (bahasa Sunda).
Curug Cijalu memiliki ketinggian lebih dari 70 meter dengan tumpahan airnya mengalir deras membelah bukit di puncak Gunung Sunda, sekitar 1300 meter di atas permukaan laut.  Curug Cijalu ditemani oleh air terjun lain yang dikenal dengan nama Curug Perempuan yang terletak sekitar 100 meter sebelum Curug Cijalu.
Curug Cijalu ini berada dalam kawasan Cagar Alam Gunung Burangrang yang sesungguhnya lebih pantas disebut Cagar Alam Gunung Sunda yang memiliki luas 2 Ha dan termasuk di hutan produksi blok Cijengkol KPH Bandung Utara, BKPH Wanayasa, RPH Tangkuban Perahu.  Konfigurasi lapangan umumnya bergelombang dengan curah hujan 2.700mm/th dan suhu udara berkisar 18-26C.
Selain Curug Cijalu di kawasan ini terdapat juga curug lain yang lebih tinggi (di atas 90 m).  Curug tersebut bernama Curug Cilemper.  Jarak Curug Cijalu ke Curug Cilemper sekitar 1500 m.  Selain lebih tinggi dan lebih deras debitnya Curug Cilemper ini dikelilingi oleh tebing-tebing tinggi  dan lebatnya pepohonan dan tumbuhan paku-pakuan.  Di dasar curug ini terdapat kolam besar dengan air yang sangat dingin mengalir diantara bebatuan besar, dari kolam tadi mengalir sungai kecil beraliran cukup deras menuju bawah tanah.  Untuk menuju ke sana sangat sulit karena harus melewati jalan setapak membelah hutan dan juga menyusuri aliran sungai.
Dulu sebelum dikelola kedua curug ini sudah sering dikunjungi orang-orang keturunan Tionghoa. Mereka menganggap curug itu tempat mandi para bidadari, tutur seorang penduduk Desa Cipancar yang sudah tinggal disana lebih dari enam puluh tahun. Kepercayaan ini timbul lantaran saat matahari pagi memancar, akan bermunculan pelangi-pelangi kecil memantul dari curug.
Lokasi
Terletak di Desa Cipancar, Kecamatan Sagala Herang, Kabupaten Subang, Propinsi Jawa Barat. 
Peta dan Koordinat GPS: -6° 42' 43.00", +107° 35' 49.00"
Aksesbilitas
Berjarak 37 Km dari kota Subang ke arah Selatan (1 jam perjalanan) atau sekitar 50 km dari Kota Bandung ke arah utara (1,5 jam perjalanan).  Sekain itu juga dapat dicapai melalui Purwakarta kurang lebih 25 km ke arah Wanayasa.  Kondisi jalan, umumnya beraspal dan hanya sebagian kecil yang masih berupa jalan batu, dapat dilalui kendaraan roda dua dan empat. .
Jika dari arah Wanayasa (di jalan raya yang menghubungkan Subang dan Purwakarta) sekitar 5 km setelah pasar Wanayasa, tepatnya di pangkalan ojek Kampung Legok Barong, Desa Pusakamulya, Kecamatan Kiarapedes ambil belokan kanan memasuki jalan desa ke arah Desa Cipancar.  Jarak Curug Cijalu ini dari pangkalan ojek tersebut sekitar 4 km.  Jalan masuk ke curug ini sudah ditandai plang dan petunjuk arah yang jelas. Kondisi jalan masuk ini sudah beraspal meski dibeberapa bagian sudah mulai banyak terkelupas.
Bagi yang menggunakan kendaraan umum dari Purwakarta naik angkot 01 jurusan Pasar Rebo.  Selanjutnya dari Pasar Rebo ini disambung dengan elf jurusan Wanayasa.  Turun di Pasar Wanayasa.  Selanjutnya dari pasar tersebut perjalanan diteruskan dengan naik ojek atau colt carteran (omprengan) hingga ke pintu gerbang I Taman Wisata Alam Curug Cijalu.  Ongkos ojek sekitar Rp 15000 hingga 20000 per orang.    
Setelah membayar ongkos masuk di pintu gerbang I, perjalanan diteruskan menuju pintu gerbang II dengan melewati jalan yang kondisi aspalnya banyak terkelupas, sempit dan mananjak.  Jarak dari pintu gerbang I ke II sekitar 3 km jauhnya.  Selanjutnya untuk menuju ke lokasi curug masih harus berjalan kaki sekitar 300 m melewati area bumi prkemahan dan jalan batu bertangga-tangga dari pintu gerbang II tersebut.  
Fasilitas dan Akomodasi
Selain adanya warung makan dan minum yang banyak ditemui di area wisata ini, fasilitas yang tersedia adalah loket karcis, pos jaga, tempat parkir, shelter, tempat sampah, jalan setapak, tempat duduk, mushola dan instalasi air.  Juga terdapat pula lapangan sebagai areal untuk camping bagi para pengunjung.
Tiket dan Parkir
Biaya masuk Rp 8000 per orang.  Sedangkan ongkos parkir kendaraan roda dua Rp 1000 dan kendaraan roda empat Rp 3000. 

KEBUN TEH SUBANG

Jalanan yang kulewati itu berbukit bukit serta berkelok. Kadang halus, tapi tak jarang juga berbatu. Namun keindahan pemandangan sekeliling serta udara yang segar membuat semua tidak kentara.

Dan perlahan terbentang di sekeliling jalan, hamparan kebun teh. Pemandangan hijau yang menyejukkan mata ini kudapatkan saat menempuh jalur dari Capolaga, Subang ke Lembang. Sayangnya aku tak tau pasti nama kebun teh yang indah ini.

Kebun teh, selalu jadi primadona jika kita berpergian ke daerah dataran tinggi di Indonesia, terutama di Jawa Barat. Kebun teh identik dengan Jawa Barat. Dan aku ingat sewaktu pertama kali melihat kebun teh, aku langsung mencoba mencicipi daun teh, gimana rasanya. Ternyata rasa daun, dan tetap sepet. Bukan rasa teh. Hahaha. Kebun teh memang salah satu tempat indah yang wajib kita singgahi. Kece!

KETAN BAKAR DAN SATE MARANGGI

Saat waktu Zuhur, aku memutuskan berhenti di Masjid Agung Sagalaherang Subang sebelum melanjutkan perjalanan ke Lembang dari Purwakarta. Aku sholat zuhur kemudian beristirahat sejenak disini. Ini masih separoh perjalanan. Mungkin 2 jam lagi. Dan aku pun bisa saja berhenti di beberapa spot jika itu menarik. Mungkin kebun teh atau curug.
Kurasa cukup waktu setengah jam berapa buat rehat, aku pun kembali mengendarai motor. Tapi tiba tiba kulihat ada warung. Rame yang duduk disitu. Kepulan asap dan aroma bebakaran, sepertinya enak. Jadi aku dan Tyo berhenti untuk mengisi perut. Kebetulan mulai lapar ni.

Ini dia ketan bakar. Pertama kalinya aku mencoba dan aku ketagihan. Enak. Aroma bakarnya, rasanya, dipadu dengan bumbu oncom, plus sate maranggi, perpaduan sempurna. Oh ya, kalo disini, teh panas tawar gratis lho. Sepertinya hampir disetiap tempat kalo di Jawa Barat, jika makan di warung gitu, ditawarin teh panas tawar gratis. Kalo gak keliru, per buah ketan bakar dikisaran Rp4000-5000 dan sate marangginya 2000-3000 soalnya lupa persisnya berapa.


Penjual ketan bakar dan sate maranggi di samping Masjid Agung ini adalah seorang ibu yang sepertinya sudah berusia cukup tua. Diatas 60 tahun. Dengan tangan beliau, tanpa merasa panas, beliau membolak balikkan ketan bakar. Kalo tidak salah sudah lebih dari 20 tahun beliau memulai usaha bareng dengan suaminya, tapi sekarang suaminya sudah meninggal. Nama ibu itu kalo gak salah dipanggil Ma ati.

Jadi kalo kalian pas lagi ngetrip melalui jalur Purwakarta - Wanayasa- Subang dan melewati jalan Cagak Subang,silahkan untuk mampir disini. Lokasinya persis di sebelah pagar masjid.

RUMAH BUNGA RIZAL LEMBANG


Dalam dunia anggrek dan kaktus di Indonesia, nama Rizal Djaafarer sudah tidak asing lagi. Beliau merupakan pelopor penyilangan anggrek lebih dari 1/4 abad yang lalu. Berbagai jenis anggrek sampai yang paling langka di Indonesia hampir semua dimiliki beliau. Kecintaannya pada anggrek membawa beliau menjadi salah satu pengusaha sukses anggrek dan kaktus di Indonesia.



Beliau memulai menekuni anggrek tahun 1978 dan terjun total meninggalkan pekerjaan sebagai dosen dan konsultan arsitek tahun 1985. Keputusan besar beliau buat, banting setir jadi petani anggrek. Beliau keluar dari zona nyaman. Beliau merasa ada tantangan dan rasa puas saat menekuni budidaya anggrek dan kaktus ini. Beliau menekuni hingga menjadi ahli untuk kedua tanaman bagaikan langit dan bumi. Tajam dan halus. Keras dan lembut. Yin dan Yang. Menjadi suatu kesatuan yang indah di tangan dingin beliau, dipresentasikan di Rumah Bunga Rizal.


Banyak yang kami pelajari dari sosok yang luar biasa ini. Beliau orang yang sangat rumah, senang berbagi ilmu, dan gaul. Om Rizal orang yang asik, bakalan gak kerasa kalo lama ngobrol dengan beliau. Banyak wejangan dan motivasi yang kami dapatkan.








Kami belajar tentang kaktus dengan beliau dan orang kepercayaan beliau yang sudah puluhan tahun bekerja dengannya. Kaktus kami pilih karena tempat tinggal kami yang beriklim tropis dan aku memang suka kaktus. Hari itu terasa singkat padahal 3 jam kami disana. Terima kasih om Rizal dan om Saif.